H-3 lebaran ini

Sudah 2 tahun ini ngerasa aku ngga lebaran, yaaa..ngerasanya cuma libur kayak hari minggu aja. Sejak tahun lalu aku dipercaya menjadi bendahara perlengkapan sekolah, dimanaaaaaaa…kalau waktu PPDB ga pernah libur. Tahun lalu tahun pertamaku, jadi aku merasa ga masalah ndak ada libur sama sekali..karena aku merasa harus banyak belajar mengenal situasi kerjaanku. Kenalan dengan berbagai vendor yang menangani kebutuhan di sekolah, merangkai kata yang baik saat harus berhadapan dengan mereka, bahkan harus mengambil sendiri kekurangan yang dibutuhkan sekolah.

Mengurusi segala hal yang baru tahun lalu cukup bikin pusiaang..fyi, aku memulai kegiatan itu mulai januari 2015. Jadi jangkeplaah setahun semua urusan belum selesai..namanya juga kerjaan tahunan..setahun ga kelar-kelar maksudnya 😂. Kebetulan banget 2 tahun ini PPDB nya barengan ama lebaran, jadi semua-muanya mepet.


Memang tetiba jadi inget kejadian hari-hari sebelum lebaran. Seperti memang sudah 2 tahun ini, aku baru pulang jam 12 siang di H-1 lebaran. Kalau tahun lalu masih banyak yang menemani..tahun ini hanya bertiga. Jujur aja setiap mau berangkat kerja di bulan puasa, dimana yang lain libur sementara saya tetap masuk memang terasa menyesakkan. Apalagi tahun ini aku merasa dalam beribadah ndaaaakkk ada nilai plusnya sama sekali. Sediihnya lebih kebangeten..tapi ya sudahlahyaaa.. tiada hal yang lain selain disyukuri. Bersyukur saya bukan seorang pegawai minimarket atau satpam di sebuah mall, yang di H-2 kemaren dengan senyumnya yang tulus menyatakan bahwa memang tidak pernah ada libur saat lebaran. Liburnya gantian setelah hari raya.

Lalu aku masih ngresulo…iyaappsss.. manusia biasa laah aku ini..😂😂. Balik lagi..ya sudahlah.. dinikmati, disyukuri, dan dijalani. Hari-hari menjelang lebaran juga selalu bikin mood ku ngga bagus. Biasalah hasrat untuk pengen pulang ke rumah mertua yang belom ketemu ini setiap tahun semakin tinggi. Tapi memang Allah belum ridho, mau gimana lagi. Semangaattt…;););)
Ngomongin soal mertua, di h-3 lebaran tahun 2011 an kalau ndak salah. Aku pernah ditelp oleh seorang teman masa kecil yang sebelumnya kami saling berkomunikasi selama 2 tahunan. Pada saat dia pulang ke surabaya, mendadak dia seperti memberi isyarat kalau dia jatuh cinta ama aku..*tssaaahhh..

Jadi aku ini tergolong manusia yang kurang peka untuk urusan itu. Kalau suka ya ngomong aja.. nanti aku tinggal nolak atau nerima. Kl ga suka jg ngomong aja..nanti aku akan memperbaiki diri. Sedangkan dia masih kasih kode-kode aja siih, dan pada saat itu aku sedang fool in lope ama yg lain. Jadi di suatu sore menjelang ashar disaat aku masih bubuk siang, si laki ini nelp. Intinya dia ngajakin nikah. Ak yang belom sadar betul mendadak kebangun, sambil bilang..kamu ga salah ngomong ya bro. Dia bilang ngga, katanya dia cintanya sama aku, tapi dia bilang lagi dijodohin ama orang lain. Kalau aku mau dia akan membatalkan perjodohan itu. Ingat ya..perjodohan..!!!!

Aku sendiri ngga tau apa yang sedang terjadi padaku saat itu. Tapi aku memang tidak bisa menjawab hal yang lain selain kata tidak. Dan ketika ditanya apa alasannya, jawabku selalu ndak tahu. Hanya 2 kata itu saja. Bukan karena seseorang yang lain, cm memang aku ketenggengen aja. Dan dia masih kekeuh, umur kita kan sudah hampir kepala 3, apalagi yang kita tunggu. Mumpung aku ngelamar kamu ini. Besok pagi aku bilang ke orang tuaku bahwa aku membatalkan perjodohanku, dan kuajak ke rumahmu untuk melamarmu. Jawabanku masih juga tidak dan tidak tahu. Hingga akhirnya telp itu ditutup, aku shock kenapa aku nolak yaakk..ak kan jg lagi pengen nikah.

Pertanyaanku terjawab esok harinya. Ketika di FB nya memuat undangan pernikahan yang akan berlangsung 10 hari setelah pembicaraan kami berakhir. Hhhmmm…kalau ingat itu aku masih saja sedih. Apa yang bikin sedih aku juga tak tahu. Haruskah aku menyesal menolaknya, atau bagaimana jika aku menerimanya. Kadang pertanyaan2 semacam ini yang membuat aku merasa tidak mengenal kehidupan. Mungkin naif kata yang tepat. Hingga akhirnya dia sudah memiliki 2 putri, aku masih juga sendiri.
Salah ya aku menolak dia dulu ? Atau betulkah keputusanku saat itu ? Aku tak pernah tahu sih mana yang paling baik jawaban itu…sampai sekarang.

Masih sendiri di usia menjelang 34 tahun ini memang sungguh menjadi hal yang agak sedikit bikin gampang nyolot. Kukira kalau belom menikah sampe diatas 30 bakalan aman, dan jauh dari gosip2 yang ga penting. Tapi nyatanya malah semakin beresiko. Memang benar jika menikah itu menenangkan.
Btw, selamat lebaran ya gaez..
Taqobalallahu minna wa minkum.. taqobal yaa kariim.

Doakan saya tahun depan mudik ke rumah mertua yaa..
Aamiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Blog English Club

Connect, Learn and Have Fun!

danirachmat

duit dan hidup diobrolin santai

ndu.t.yke's life

{while & after sydney}

hitam poetih

media lain dalam berkarya

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Wisata Dieng

Dieng Plateau, Jawa Tengah, Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

rinaoktaviani87

katresnan, panngerten, setya tuhu

Yudha Qirana

Sebuah Catatan Seputar Dunia IT dan Info-Info Menarik

Myinspired's Weblog

There are not only about myself but everything interesting all of my day I wrote here

Dreamer, different & complicated person

Just another WordPress.com site

%d blogger menyukai ini: