Tentang Sabtu Bersama Bapak

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling mengisi kelemahan.
Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang.
Bukan tanggung jawab orang lain.
-Adhitya Mulya-

Jadi mengisi libur lebaran ini, salah satunya dengan menonton film yang baru premiere tanggal 5 Juli kemaren. Sebuah film karya sutradara MontyTiwa, based on novel yang fenomenal karya Adhitya Mulya “Sabtu Bersama Bapak”. Saya pribadi sih belum baca novelnya, dan jujur saya paling ga suka baca novel dl baru nonton film ataupun sebaliknya. Buat saya novel dan film, Indonesia khususnya, adalah 2 sisi yang sangat berbeda. Mungkin sang penulis pasti bakal turut berperan dalam proses pembuatan film, kalau ngga mana boleh ya novelnya disingkat cerita jadi 2 jam gitu. Tapi bagaimana dengan pembaca. Yang aku yakini sih setiap pembaca punya imajinasi sendiri-sendiri dalam memaknai novel itu. Salah satu teman bilang pas di novel itu begini…filmnya ga sama. Aahh itu yang membuatku tak suka.

Film ini berkisah tentang seorang bapak yang didiagnosa kena kanker, sedang dia harus meninggalkan 2 anak lelakinya yang masih kecil dan seorang istri yang begitu dicintainya. Demi tumbuh kembang 2 anak lelakinya ini, sang bapak sebelum kematiannya, membuatkan rekaman tentang nasihat dan pembelajaran untuk dilihat bersama setiap sabtu. Sang anak pertama, satya, begitu mengidolakan sang bapak, hingga sampai menikah pun dia semacam terobsesi untuk menjadi sempurna seperti bapaknya, hingga hampir saja berpengaruh dalam hubungan pernikahannya. Sedang anak keduanya, cakra, adalah seorang direktur yang masih menjomblo, hingga akhirnya dia bertemu ayu/retna yang ternyata adalah pegawai baru yang ia incar di tempat kerjanya.


Film ini seru bangeeett…penonton akan diajak naik roller coaster dengan perasaan. Mulai dari adegan sedih dulu, ngakak kocak, nangis, haru biru, dan bahkan senyum-senyum sendiri. Kemasannya juga unik, begitu juga dengan endingnya yang akhirnya bikin aku bilang, lhoooh udah ta..*yaaa kalo mw tambah baca kaleee… πŸ˜‚πŸ˜‚. Tapi si sutradara ini pas banget menyuguhkannya. Alurnya yang rasaΒ  nano-nano ini pas banget ditonton untuk semua umur, terutama pasangan yang mungkin akan menikah. Film ini juga mengajarkan, bahwa memang tidak ada pasangan yang sempurna, sekalipun dia ingin menjadi seperti bapaknya sendiri. Pembelajaran kepada setiap anak pun berbeda, ketika orang tua kita mengajarkan pada kita.
Betewe, itu menurut saya tentang film itu, bukan tentang novelnya. Tapi ya gitulaaah yaaa….eyke paling ga bisa review pilm πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. Kebetulan tadi siih nontonnya ama 2 orang temen yang sudah ndak punya bapak. Kebayang gimana mereka rindu akan sosok bapak.

Inget soal bapak, aku jadi inget pertanyaan temenku, udah lama banget siih. Dia nanya, “kalau papa gimana mbak..?”. Aku balas nanya, biasa aja, apanya yang gimana. Dia penasaran karena selama ini yang selalu aku ceritakan adalah selalu tentang mamaku. Mungkin aku bisa deeh sekalian cerita disini.. sapa tau ada yg pengen lebih dekat dan mengenal diriku…*uuhhhuuukksss 😁😁😁 *aaamiiiin…

Jadi kenapa aku jarang bercerita tentang papaku, itu bukan karena apa-apa. He always be my hero. He’s the very best teacher i ever met. Papaku itu bukan seorang guru. Tapi beliau selalu mengajarkan banyak hal pada 3 anak lelaki dan 1 anak perempuannya. Papaku sejak kecil selalu mengantarkan aku kemana saja, termasuk sekolah. Jadi suatu hari waktu aku masih sekolah TK di probolinggo, papaku pernah lupa menjemput aku, hingga aku 2 jam menunggu beliau. Dan aku selalu yakin bahwa beliau akan datang menjemputku. Sewaktu pindah ke Surabaya, kelas 2 SD, papaku mencari sekolah yang sangat dekat. Aku cukup berjalan 5 menit saja untuk sampai ke sekolah. Beliau meminta anak-anaknya terutama aku, harus memiliki ekstra kurikuler sepulang sekolah. Mulai dari tari, senam lantai, musik, pks, hingga berenang di kelas 3 SD, aku ikuti. Beliau tak mengijinkan kami untuk terlalu sering menonton tv saat weekdays. Kami hanya diijinkan menonton tv saat hari minggu. Setiap malam aku dan adikku selalu diberi dongeng sebelum tidur, yang membuat kami selalu meminta cerita lagi jika kami belum bisa tidur..

Papaku juga senang sekali mengajak kami bepergian, mungkin itu sebabnya aku sukaaaa sekali bepergian. Beliau juga suka mengajak makan diluar saat ada rejeki lebih, dan sekarang aku pun juga suka πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Papaku tak pernah memberikan uang jajan berlebih, bahkan aku merasa papa dan mama itu peliit, karena uang jajanku selalu lebih kecil dari teman yang lain. Tapi papaku bilang ngga papa lebih kecil asal kalau pengen sesuatu dibelikan papa aja. Papaku selalu memberi reward untuk 3 anak lelakinya jika setiap rapotan mereka masuk dalam rangking 10 besar. Tetapi tidak denganku, kata beliau aku akan menghabiskan jatahnya mas dan adikku jika aku juga meminta, karena aku tak pernah lepas dari 10 besar. Dan aku marah, tapi saat aku smp dia mengatakan, jangan mencari reward untuk sebuah prestasi, nanti kamu tak akan pernah benar-benar berprestasi.

Aku selalu punya waktu sabtu bersama bapak juga saat itu. Jadi les renang ku setiap sabtu sore. Sabtu sore itu papa akan menjemput aku dan adikku, untuk langsung diajak makan mie ayam di daerah rungkut. Hal itu berlangsung mulai dari kelas 4 sd hingga smp. Saat sabtu sore itulah saat yang paling kutunggu-tunggu, kuanggap sebagai reward ku setiap minggu. Jadi itu sebabnya aku sukaaaa banget ama yang namanya mie ayam…terutama mie ayam rombong biru. Pernah aku menangis tanpa henti ketika papa sudah mulai sering ditugaskan keluar kota. Dari seringnya tugas keluar kota itulah, cita-citaku terbentuk untuk menjadi seorang arsitek setelah melihat kota Jakarta pertama kali ketika papaku tugas disana. Jika bepergian keluar kota dengan kendaraan umum, papa selalu mengajak kami dengan kendaraan ekonomi, meski sebenarnya papa bisa saja membelikan tiket bisnis atau eksekutif. Katanya agar kami terbiasa dengan kendaraan jenis apa saja.
Papaku selalu mensupport kami dibidang apapun. Mas tertuaku yang smp ambil pilihan tata boga pun diijinkan. Mas keduaku diijinkan untuk menekuni silatnya. Aku dan adikku diijinkan berkelut di olahraga renang. Hingga akhirnya aku dan adikku sering sekali mewakili sd kami untuk lomba renang. Papaku memang tak pernah hadir di perlombaan itu. Pernah suatu kali beliau menitipkan kami kepada guru olah raga kami, bahkan urusan pendaftaran pun kami diajarkan untuk mendaftar sendiri. Beliau selalu ingin kami terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Ketika sd, kami berempat diwajibkan untuk mencuci pakaian dalam sendiri. Ketika kelas 5 sd kami diajarkan untuk mencuci seragam sendiri. Mbokyo’o kita capeeekk, orang tua kami tidak akan pernah mau mencucikan seragam kami.

Setiap ulang tahun kami akan dibelikan kado sesuai permintaan kami..dan mama akan memasakkan masakan sesuai request kami. Hingga kado sebuah electone itulah yang akhirnya membuat aku menjadi seperti ini. Menjadi seorang guru kesenian, bukan lagi menjadi arsitek yang terhempas gegara masuk kelas IPS waktu sma. Ketika beranjak dewasa..adikku smp, papa mengajarkan hal baru. Suatu sore, kami dikumpulkan di teras, lalu beliau menyalakan rokoknya. Kami secara bergantian diminta untuk mencoba sampai kami puas. Awalnya terbatuk-batuk, dan beliau terus membetulkan tentang cara merokok. Saat kami sudah mulai terbiasa, papa mulai menghentikan, dan berkata kalian sudah tahu rasanya dan sudah tahu caranya, jadi nanti kalau temen2mu bilang dan ajak-ajak, kalian harus sudah punya jawaban sendiri.
Suatu hari, seorang teman papa mentraktir papa untuk menginap di malang. Pada saat makan siang, papa memesan bir bintang 1 gelas. Beliau meminta kami berempat mencicipi minuman tersebut. Kami berempat langsung pasang muka sepet…πŸ˜‚πŸ˜‚ Setelah kami selesai, beliau mengatakan hal yang sama. Hingga detik ini, tak ada satupun dari kami berempat yang merokok dan minum minuman keras, bukan takut dengan papa, tapi kami sudah tahu rasanya. Ndaaak enaaakkk……Dan sejak itu pula papa mulai berhenti merokok.

Papaku itu bukan papa yang sempurna, beliau keras, kaku, bahkan untuk urusan agama beliau termasuk kurang. Papaku selalu bilang semua keluarga itu sama aja, nggak perlu iri sama keluarganya yang lain. Beliau mengajarkan ngga perlu pujian saat kamu berprestasi, ga perlu cerita banyak hal tentang dirimu. Nanti semua orang akan mengenalmu dengan caranya masing-masing. Itulah sebabnya aku jaraaang banget cerita tentang papaku. Aku jarang bercerita tentang diriku, kisahku, atau bahkan keluargaku jika aku tidak ditanya. Ya karena itu tadi, menurutku setiap keluarga sama, memiliki kurang dan lebih masing-masing. Papaku itu adalah bagian hidupku ketika SD sampai pertengahan kuliah.
Papaku itu memiliki banyak kekurangan, tapi tak sedikit kelebihannya. Itu sebabnya dari dulu aku tak pernah ingin suamiku kelak seperti papaku. Aku pun juga selalu belajar dari kurang lebihnya papaku. Bukan karena kurangnya papaku, tapi aku tak pernah ingin menjadi bayangan orang lain, begitu pula dengan suamiku kelak. Aku tak pernah bilang bahwa suamiku kelak pengen yang kayak papaku, aku tak ingin dia akan menjadi cermin dari sosok idola gadis pujaannya. Aku ingin suamiku tetap menjadi dirinya sendiri. Mencintai aku dan keluarganya kelak dengan caranya sendiri.

He always be my hero, dia akan selalu jadi panutan. Dia akan selalu menjadi sosok yang aku cinta. Menemaniku ke salon untuk potong rambut (karena dl aku ga suka banget di potong rambut, jadi kl aku potong rambut papa harus membayar salon dan membayar aku πŸ˜‚), tak patah semangat untuk selalu mencuri fotoku (percaya atau nggak, dl aku ga sukaaa banget difoto..sekarang….hhhmmmm), siap mengantar kemana saja, bahkan siap aku panggil ketika aku membutuhkannya. I always be my daddy’s little girl yang seharusnya manja, tapi beliau tak pernah membiarkanku manja sedikitpun. Beliau akan selalu bilang ya ketika mama bilang tidak. Hingga akhirnya cerita berbalik ketika pertengahan kuliah, papa mulai sering tugas di jakarta dan aku lebih dekat dengan mama hingga sekarang. Yang pasti aku tetap mencintai papaku dengan caraku sendiri, sekalipun di usia dan kesehatannya yang semakin menurun sekarang. Dan akhirnya aku sering sekali bercerita tentang mamaku, bukan lagi papaku. Aku mencintai kerasnya dan kesabarannya dalam mendidik kami.

Aku sempat jatuh cinta dengan sosok bapak dari seorang lelaki yang aku jatuh cintai. Bukan jatuh cinta layaknya sepasang kekasih, tapi aku sangat mengagumi kesabarannya dan sosok ayah yang bersahaja dan kasih pada keluarganya. Beliau mengingatkanku pada papaku, yang jelas dengan 2 sosok yang berbeda. Tapi saat itu juga aku merasa sayang, kagum dan aku melihat hasil nya di anak lelakinya. Begitu juga ketika aku mulai jatuh cinta dengan lelaki itu, aku seketika menitipkan harapan dan mimpiku padanya. Meminta pada Yang Memiliki Hidup agar dialah pelabuhan terakhirku. Dengan segala kekurangan yang dia dan aku miliki, dan segala kelebihan yang dia dan aku miliki, aku meminta untuk disatukan. Hanya saja DIA tidak mengijinkan. Sekalipun aku memohon dan menunggu, sepertinya aku harus merelakannya bahagia dengan pilihannya sendiri. Dia bukan seperti papaku, dia tetaplah dia. Yang memiliki banyak cara, yang mungkin dia tidak tahu bahwa aku akan selalu tersipu di setiap pembicaraan kami seperti retna yang berkenalan kembali dengan saka.

Jadi, apa kisah sabtu bersama bapak(mu)…?

Iklan

3 tanggapan untuk “Tentang Sabtu Bersama Bapak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s